Teks: Wuri Kartiasih (wurikartiasih@trendkhasanah.com) Foto: ade_oyot (ade_oyot@trendkhasanah.com)

Jakarta – Di ajang IFW 2017 hari pertama, Rabu (1/2) yang berlangsung di JCC Senayan, Jakarta, Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) menampilkan kreasi busana yang bertema Tenoen Etnik yang menghadirkan karya 6 desainer.

Para desainer tersebut adalah Ida Royani, Jenahara, Jeny Tjahyawati, Torang Sitorus, Anne Rufaidah, dan Nieta Hidayani.

Ida Royani, Jenahara, Jeny Tjahyawati, dan Torang Sitorus menghadirkan koleksi yang menampilkan kreasi dari Ulos, kain khas adat Batak. Ida Royani menghadirkan koleksi Ulos Pinuncaan dan Sadum. Ulos Pinuncaan merupakan penggabungan 5 kain tenun yang disatukan.

Koleksi hadir dengan aneka warna seperti hitam, putih, ungu, serta terakota. Tidak hanya hadir sebagai baju, tenun ini pun di kreasikan menjadi tas dan sepatu.

Sedangkan sang anak, Jenahara menampilkan koleksi Ulos monotone antara hitam dan putih yang dapat di padupadankan dan terlihat edge.

Rarigami Reconstruction yang terinspirasi dari origami dan Ulos Radigub yang merupakanm tenun Batak Toba dihadirkan oleh JenyTjahyawati. Ulos Radigub memiliki derajat paling tinggi dalam tradisi Batak Toba. Tampilan yang dihadirkan menciptakan rancangan bergaya feminin elegan dengan siluet H-line.

“Origami ini digunakan sebagai detail hiasan yang memberikan efek 3D pada koleksi,” ujar Jeny yang menampilkan koleksi dalam balutan warna putih gading.

Penampilan koleksi Torang Sitorus menghadirkan tema The Passamot. Torang menggunakan Ulos Pinuncaan yang merupakan kain kebanggaan orang Batak. Terinspirasi dari cerita haru nan bahagia dalam ritus perkawinan adat Batak, momen disaat orang tua pengantin wanita memberikan kain Pinuncaan kepada orang tua pria.

“Saya sengaja menggunakan Ulos ini, karena kalau tenun ini hanya ada di sekitar Medan, kapan tenun ini akan berkembang,” kata Torang yang dijumpai usai peragaan.

Keindahan tenun Tana Toraja, NTT memang tidak ada habisnya. Anne Rufaidah pun mengeksploitasi keindahannya dengan tajuk Tenoen Etik. Ia menggunakan kain tenun dengan warna cerah yang bereasal dari kecamatan Sefa dan Soe.

“Saya ingin menghilangkan tanggapan kalau warna tenun selalu gelap-gelap. Tenun ini pun lebih murah menggunakan benang pabrikan,” ujar Anne.

Nieta Handayani pun menggunakan tenun dengan warna muda yang lembut. Dengan menggunakan tenun Donggala khas dari Sulawesi Tengah, koleksi terlihat cantik nan feminin dengan hadirnya motif bunga dan kupu-kupu.

Diharapkan dengan hadirnya aneka koleksi busana yang terbuat dari tenun ini, menjadikan tenun Indonesia semakin dekat dengan masyarakat dan dapat dikenal luas hingga ke mancanegara.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here