pun tampil dalam rona klasik dengan sentuhan emosi tradisional khas rumah mode Bramantya Wijaya di Hotel Raffles, Jakarta.

Cinta merupakan ejawantah dari iman dan harapan dalam visi sang perancang asal Semarang ini. Dalam kekalutan dunia yang tengah merebak benci dan amarah, Bramantya mengetengahkan “kasih” atau “tresno” atau cinta. Cinta itu mengembangkan, menumbuhkan, menginspirasi, dan membawa energi positif.

Bramantya Wijaya merayakan cinta dalam lubuk iman dan harapan dengan memadukan busana jawa, peranakan china, dan eropa. Sang desainer pun mencari titik-titik temu dalam motif, warna, peminjaman aksen, dalam gaya balutan kontemporer.

Ia mengambil sisi-sisi kebebasan kaum wanita pada masa beberapa dinasti, dengan menampilkan siluet anggun jubah-jubah wanita bangsawan.

Potongan badan yang melebar dan membebaskan gerak dituangkan menjadi gaun midi berpotongan trapeze. Jubah Manchu dengan 4 belahan diberi sedikit twist  agar menjadi gaun panjang yang dihias detail yang dipadukan dengan celana panjang.

Dominasi kerah sanghai tampak di setiap gaun. Bustier hadir dalam sentuhan klasik nan elegan yang dipadukan dengan bawahan kain sarung khas kebaya encim. Sesekali, rok dengan potongan flare akan tampak silih-berganti dengan gaun berpotongan cheongsam, suatu ekspresi kebebasan wanita china ada tahun 1930-an.
Teknik bordir dalam tampilan busana berbahan kain linen melengkapi harmoni itu, ketika paduan budaya eropa, peranakan china, dan Jaea tampil dalam motif bunga krisan maupun bunga eropa lainnya. Beberapa di antaranya juga dipadukan lagi dengan motif mega mendung, sebuah motif yang biasa diterakan dalam batik khas pasisiran. Pilihan warna-warni cerahnya menyimbolkan keceriaan dan kasih.

Akulturasi ini disempurnakan dengan iringan lagu “Impen-impenan”, suara rindu-cinta berlanggam Banyuwangi yang diseliingi pula dengan alunian musik oriental. Wakhid Nur E

BAGIKAN
Berita sebelumyaKaendahan by Liza Supriyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here