Teks : Wakhid Nur Effendi Foto : ade_oyot

Jakarta – Memasuki pasar dan menjumpai para pelanggan dan calon pelanggan sudah menjadi kemestian bagi desainer Indonesia dengan karya-karya ready to wear-nya. Kali ini, desainer senior Itang Yunasz mengadakan fashion show di jantung komersial Pasar Tanah Abang, pusat grosir terbesar di Asia Tenggara.

Bertajuk Belanga Wastra, Itang meramu proses kreatifnya dari retrospeksi karya-karyanya yang dia ciptakan semenjak tahun 2012 hingga kini. Lima tahun proses kreatifnya tak dibiarkan menjadi masa lalu yang gagu, karena ia rancang lagi dengan sense inovasi dan kebaruan. Dengan menganalogikan belanga sebagai sebuah tampungan besar untuk masuknya aneka bahan, Itang coba menyentuh ulang karya-karyanya, dimasukkan ke dalam satu tema baru, bernama “Belanga Wastra. “Saya tambahkan hal-hal kontemporer, misalnya dengan sentuhan full embrioderry,” ujar desainer senior Indonesia ini.

 

Bertempat di Pusat Grosir Blok B Tanah Abang, Innercourt lt LG, Itang memapar perihal karya-karyanya ke dalam belanga wastra semenjak Kami laa, lini produk miliknya, yang berdiri pada 2012 lalu. Itang sadar bahwa retrospeksi beserta pembaruannya menjadi penting agar busana ready to wear-nya bisa stylish namun juga terjangkau oleh konsumen.

“Kamilaa menjadi tolok ukur berbusana modern dengan harga yang sangat bersahabat,” ujarnya. Dalam tawaran ragam warna, penambahan detail aplikasi, seperti detail bordir, serta gaya outer, dan model blus berpadu rok atau celana panjang, sentuhan kontemporer kreasi Itang Yunasz pun menawarkan petualangan maupun citarasa feminin baru bagi pemakai karya-karyanya.

Memenuhi Tuntutan Pasar

Tak sebagaimana perhelatan yang diadakan oleh lembaga-lembaga desainer yang berada di gedung-gedung resmi ataupun mal yang bercita rasa elegan, Pasar Tanah Abang menjadi tempat yang dipilih Itang sebagai wahana penyampai ekspresinya, sekaligus sebagai bidikan pasarnya. Pasar Tanah Abang sendiri adalah pasar representasi di mana semua konsumen dari aneka lapisan masyarakat. Dari cita rasa berbusana tinggi hingga lapisan terendah. Selama ini, ada pandangan dikotomis (dua hal berlawanan), bahwa pasar busana dengan tuntutan yang kebutuhan secara massif berbeda dengan citarasa para desainer yang memilih menciptakan karya tinggi, limited.

Itulah sebabnya ready to wear menjadi pilihan realistis bagi para desainer untuk menjangkau pengguna busana. Pilihan produk limited atau massal tentunya terpulang pada para desainer. Sayangnya, tanpa keterjagaan hak cipta, orisinalitas dari pemulia busana seperti desainer bisa menjadi bulan-bulanan pasar yang akan mencontek habis-habisan kreasi mereka. Dan itu perlu strategi tersendiri bagi para desainer untuk menghadapi pasar, menguasai, atau ditelan pasar.

Kini, Itang Yunasz tampil di pusar komersial terbesar busana di Tanah Abang. Pertanggungjawaban estetik Itang pun bermuara pada stage runaway, di mana 30 karya koleksi busana dan 20 koleksi kerudung diperlihatkan. Antara citarasa estetik dan kebutuhan praktis para costumer coba diaransemen Itang Yunasz di belanga bernama Pusat Grosir Tanah Abang ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here