Jakarta – 2 Oktober ini diperingati sebagai hari batik nasional. Ramai di medsos maupun pemberitaan, dari pawai batik hingga berselfi ria dengan busana batik. Yuk, kita kulik bagaimana batik itu tercipta di Nusantara.

Kisah terciptanya batik sebenarnya kisah buram. Kain batik adalah bagian dari narasi eksplorasi bangsa-bangsa di Nusantara manakala negeri ini satu per satu jatuh dalam jaringan perdagangan global pada pertengahan akhir abad ke-17. Semula, tulis Anthony Reid dalam Asia in the Age of Commerce part II, bangsa Nusantara yang makmur berkat perdagangan, lebih suka mengimpor kain katun dari India atau sutera dari Tiongkok.

Tak tepermanai pula impor barang mewah yang benda-bendanya itu menghiasi rumah-rumah para bangsawan, istana-istana negeri, pun rakyat. Ternyata, bangsa kita sudah jago mengimpor ya, nun 500-an tahun lalu. Alhasil, pelabuhan-pelabuhan di segenap pesisir Nusantara ramai oleh lalu-lalang kapal yang membawa aneka kebutuhan rumahtangga maupun benda-benda mewah dari negeri seberang.

Jatuhnya Kerajaan Mandirikan Karsa dan Cipta

Sejarah mencatat, kerajaan-kerajaan Nusantara jatuh dalam kuasa kolonial, utamanya VOC. Laut diblokade, dan kapal-kapal Nusantara tak leluasa berlayar lagi, lalu bangsa-bangsa ini jatuh kemakmurannya, disusul melakukan swasembada dalam hal busana, salah satunya.

Alat-alat pemintalan yang tersimpan digerakkan kembali, pepohonan berbuah kapas ditanam dan dipetik sebagai bahan bakunya. Sebuah blessing in disguise (rahmat terembunyi) karena bangsa liat ini mampu menciptakan busana lokal yang kini disebut sebagai kain batik.

Kain batik ini dikenal dengan sebutan di mana kain ini diproduksi: di pantai utara Jawa dikenal sebagai batik pasisira); di pedalaman Jawa Barat disebut batik priangan; diproduksi oleh empat kawasan kerajaan Jawa Tengah, disebut batik mataraman; di istana-istana kerajaan, disebut batik kraton; batik pedalaman, yang berkembang di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kini, segenap daerah sudah menggiatkan batik yang berinspirasi kekayaan alam maupun kultural lokalnya, baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Arti di sebalik Motif Batik

Batik sejatinya adalah ekspresi dari bangsa negeri tropis yang suka tersenyum, bersenandung, dan bersapa. Bangsa Nusantara lebih menyukai warna, pun dalam hal busana, sehingga batik adalah pelukisan untuk menyentuh kain polos putih itu. Motif-motif batik pun mampu bercerita.

Motif tunggal seperti motif flora, motif fauna, atau kombinasi dalam keduanya, juga inspirasi kekayaan kultural, adalah bukti ketajaman rasa para pembatik pada lingkungannya. Kain-kain batik kasar dengan motif sederhana biasa dipakai oleh orang biasa (jelata) baik di desa maupun di kota.

Batik kemudian mengalami sofistifikasi (pencanggihan dan penghalusan) begitu kalangan kraton dan para bangsawan melirik dan menyentuhnya. Biasanya, mereka mengangkat ajaran-ajaran tinggi, seperti kepemimpinan, hobi para Raja seperti berburu, nembang, untuk diubah ke dalam motif batik. Rumit, halus, dan penuh warna wibawa, seperti cokelat untuk warna keteduhan dan pancaran wibawa, atau merah untuk kebesaran dan membedakan dengan yang lain.

All can wear batik

Dahulu, jangan harap rakyat biasa diperkenankan memakai motif batik istana dan kalangan bangsawan, sekalipun mereka mampu membeli. Ternyata, busana pun dipakai sebagai kontrol sosial dan juga lambang supremasi maupun gengsi.

Kini, stratifikasi, diferensiasi berdasar garis keturunan sudah tiada lagi, siapa pun dia, aneka jenis dan motif kain batik bisa dipakai secara bebas. Batik pun sudah menjelma menjadi busana bergengsi, yang bisa dipakai secara elegan untuk acara formal maupun nonformal.

Bahkan batik sudah bukan identik busana dewasa. Dengan motifnya yang ramai dan ringan, anak muda pun sudah mengenakannya tanpa risih. Batik sudah mewabah, di setiap daerah, terdapat jenis dan motif batik, yang dijajakan sebagai cendera mata bagi wisatawan.

Apalagi dengan sentuhan para desainer busana, batik menjadi semakin memesona berkat aneka teknik yang diterapkan pada lambaran kain batik, ataupun dikombinasikan dengan jenis kain yang lain. Batik bukan lagi kain subsistensi, tak dipakai karena kesengsaraan dan keterbatasan. Batik telah mengalami Renaissans, kebangkitan.

Selamat Hari Batik Nasional, sukses untuk semua pemulia batik, baik Anda produsen, desainer, maupun para konsumennya. Cintai produk dalam negeri, tangguk devisa untuk kemakmuran anak negeri.

Wakhid Nur E

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here