Busana tak sekadar paduan warna dan teknik potong dan garis semata, setidaknya itu yang ingin dijelaskan oleh Lia Mustafa dalam tema absurd-nya kali ini.

Tampil pada hari Kamis, 22 Oktober 2018, di Main Hall Atrium Hartono Mall, Lia Mustafa tampak bergairah memaknai dunia yang makin canggih, saat saling interkoneksi dengan media digital dan intelijensi buatan (artificial intelligence) bukan saja dalam ruang bumi, melainkan semesta galaktika.

Tak semata menjanjikan kenyamanan dan kemudahan, masa depan juga membingungkan ketika konfligurasi kekuatan tengah mencari keseimbangan baru. Siapa yang mendominasi, siapa yang terdominasi, siapa yang menjadi pecundang, dan harapan apa agar selamat dari era baru yang penuh disrupsi ini?

Lia Mustafa pun menawarkan busana panjang dan two pieces, atasan-bawahan, yang memadukan warna hitam, putih, cokelat, dan krem dalam acara Jogjakarta Fashion Festival (JFW) 2018 yang diadakan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) chapter Jogja bersama dengan Mal Hartono.

Hitam-coklelat tampak menjadi dasar warna dari jenis kain viscose, bomberg (silky-cotton), dan doby, dengan komplemen kain batik kontemporer, rajut (knitting). Aksentuasi selanjutnya Lia arahkan pada pilihan jenis kerah, kuasi-vest, obie, rompi-panjang, serta bawahan yang merupakan kreasi dari sarung.

Tampil elegan dan making different adalah tampilan luar dari busana rancangan Lia Mustafa. Namun saat dieksplorasi arah kebatinannya, desainer kelahiran Bandung ini hendak memapar, bahwa kehidupan tak semata warna hitam-putih. Kebingungan dan absurditas membuat manusia untuk berpaling dan meromantisir Abad Tengah sebagai tatanan yang harmoni, jelas, teguh dan dikawal nilai kekesatriaan.

Inilah diri yang diharapkan, tak terlibas dan anomi dalam bayang absurditas. Autentisitas kemanusiaan ternyata bisa berawal dari cara pemilihan dan gaya busana ataupun warna. W/H; Foto: Ade Oyot

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here