Inspirasi agraris tersedia melimpah, sampai kemudian Hendri Budiman lewat brand 3 Ratu Batik memanfaatkannya dalam rancang busana.

Suara ibu petani berteriak dalam lengking “hoee…hoeee” sembari menggerakkan bambu yang terbelah di persawahan, untuk menakuti dan mengusir burung-burung di tengah sawah yang tengah menguning. Itulah memedi sawah yang menggentarkan beburungan pemakan bulir padi.

Memedi sawah adalah interaksi antara penunggu sawah dan burung-burung pengambil bulir padi yang berlangsung siklis, senantiasa berulang, lalu dipotret menjadi suatu budaya agraris yang menarik.

Petani hanya mengusir, tidak membunuh atau memerangkap beburungan itu, karena keberadaan telah dpahami sebagai penyeimbang kelestarian alam. Memedi sawah menjelma dari sekadar menakuti burung menjadi suatu simbol ketahanan pangan yang harus dilakukan bangsa negeri ini.

Di tangan desainer Hendri Budiman, para memedi menjelma dalam ragam busana yang artistik sekaligus merona estetik. Ragam warna hitam, cokelat, biru elektrik, biru muda, dan kuning kehijauan dalam lambaran kain batik tulis, tenun ATBM, dan kombinasi kain katun.

Hendri memadukan aneka lapisan kain berupa dalaman (inner), dengan luaran berupa kemben berdraperi, blazer. Jadilah memedi yang tidak saja kehilangan rona misteri maupun penggentarannya, melainkan melenggang dalam langkah nan gembira. Apalagi bebat aneka model komplemen kain  maupun penutup kepala dalam tubuh yang memperlihatkan tabrak corak. Ramai namun tetap ada keseimbangan dan harmoni.

Orang-orangan sawah telah menjelma dalam olah fashion, memperlihatkan bagaimana suatu peristiwa biasa dan selalu berulang di negeri agraris itu bertransformasi, menjadi warisan tak benda yang berharga. W/H; Foto: Ade Oyot

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here