Di tangan para desainer, ragam busana etnik Nusantara mengalami rejuvenasi (peremajaan kembali). Mereka menyapa pasar, bahkan kaum muda milenial lewat sofistikasinya.

Sore itu, 31 Maret 2019, para desainer yang peduli dengan ragam dan motif etnik Nusantara mementaskan ragam kekayaan busana etnik nusantara dalam Cultural Fashion Trunk Show di main stage, Jakarta Convention Centre.

Corrie Kastubi mementaskan busana gaya hippie tahun 70-an modif lewat tema “Nusantara Etnik”. Desainer senior ini mementaskan dua koleksinya dengan medium kain tenun sasirangan-Banjar, lewat busana loose model melayu.

Dari dunia kain banjar, melompatlah ke Keke Marpaung. Desainer asal Batak ini menampilkan busana pesta berupa kemeja pria dan wanita: rok tutu midi, dan tube dress, yang terangkai dalam jalinan tiga warna dan motif rumah adat khas Batak Toba yang disebut “sitiga dolit”.

Dalam nuansa yang sama pada model etnik yang berbeda, R. Emma Damayanti mempersembahkan “Lenggak-Lenggok Jakarta”. Emma memadukan kebaya encim Jakarta dan batik betawi dengan sentuhan rasa milenial, misalnya dalam pilihan bahan jins pada kebaya, teknik cutting dan lipit-lipat pada bawahan, dan juga teraan kulit sintetis.

Etty Nafis yang mengenalkan brand Marita merilis busana kurung dan kebaya panjang dalam aneka warna maupun bahan-bahan tenun. Kali ini, ia memadukan aneka tenun dari aneka etnis, yang diharmonisasi sehingga menjadi busana bersuar dan kompatibel untuk busana kontemporer.

Yuanita Sabrina melalui brand Putihitam menyajikan “Mhysa” atau “Ibu”, makna lainnya “sang Pembebas”, yang terambil dari bahasa Old Griscari dalam cerita fiksi Game of Thrones. Dalam ragam busana muslimnya ini, Nita memakai tenun Kalimantan bermotif dayak, tetap dalam warna khasnya, putih dan hitam. Suar feminin, tegas, dan berani tampak dalam koleksi pementasannya.

Dari bumi Seribu Masjid, Mataram, Harni Harun dan Nandhia Saubari lewat brand Nanunisa mengetengahkan “Selaras Alam”. Mereka memadukan tenun Indonesia Timur, seperti Lombok, Sumbawa, dan Jumpandang, Aneka model dress pesta dalam medium busana etnik pun tampil.

Fanti W. Nurvita membangkitkan dayak yang energik dalam 3 busana pria dan 2 busana wanita. Warna khas etnik berupa warna utama hitam, putih, biru, adalah rona yang bertuah untuk kemurnian dan tolak bala. Menjadi tampak indah manakala sentuhan tema Borneo’s luxury dari Fanti dipresentasikan ke dalam budaya Borneo yang sangat kaya, mewah, dan warna optimal, serta aplkasi bordir motif Dayak yg penuh warna di atas kain satin dan linen.

Desainer pria satu-satunya dalam Trank Show APPMI kali ini adalah Muhammad Bilal. Pria asal Palembang ini mengetengahkan busana pria dalam tema “The Executive”. Ia yang ingin mentransformasikan legacy dalam tempo kini itu menampilkan paduan kain songket nampan perak Palembang dan bahan katun serta aplikasi swarosky. Jadilah ragam busana two-three pieces, dalam kemeja berbalet jaket, atau long blazer dengan aplikasi sarung maupun celana panjang pada bawahan.

Tentunya, elegansi dari pembangkitan legacy akan membuat budaya berbusana kain Nusantara senantiasa bertahan, berkembang, dan pada akhirnya menemukan pasar dalam maupun luar negeri. Antara rasionalitas harga, keunikan, serta sofistikasi sentuhan sang desainer akan menjadi tuah penentunya pula. Teks: W/H, Foto: Ade Oyot

BAGIKAN
Berita sebelumyaThe Beauty of The Ribbon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here