Inspirasi Batik Alam dan Budaya Ngawi

0
127
Foto : ade_oyot (adeoyot@gmail.com)

NgawiAcara tea time unik dalam rangka festival batik ngawi diselenggarakan oleh Pemkab Ngawi dengan cara unik, yakni di sebuah benteng bersejarah yang tak jauh dari pertemuan Bengawan Solo dan Bengawan Ngawi.

Suatu bangsa takkan mati, demikian Jared Diamond dalam buku Collaps, apabila pada dirinya muncul kemauan untuk senantiasa memperbarui diri, berinovasi, dan secara konsisten tumbuh dengan melakukan uji kreativitas terus-menerus. Pernyataan itu boleh kita sematkan pada Pemkab Ngawi yang telah lima kali ini secara konsisten memfasilitasi para talenta lokalnya untuk maju dan produktif.

Lewat sentuhan Ir. Budi Sulistyono, Ngawi yang terkelilingi hutan jati itu telah lima kali menyelenggarakan festival batik. “Ngawi memiliki aneka keunggulan untuk membangkitkan kreativitas lokalnya, antara lain batik tulis. Kita akan memanfaatkan motif alam, baik flora maupun fauna yang kaya di Ngawi, warisan historis berupa situs manusia purba Trinil. Busana batik ini harus sejuk, enak, sedangkan limbahnya pun tak berbahaya. Dan nantinya, baik kami harus go global, bersaing dengan ragam busana lainnya,” ujar politisi lulusan teknik mesin Universitas Gadjah Mada ini optimis.

Batik tulis dan pewarna alam memang menjadi unggulan yang ditawarkan Ngawi. Kesiapan sumber daya alam maupun manusia pun sudah tersedia. Rata-rata, para desainer maupun pengusaha batik Ngawi sudah puluhan tahun membaktikan diri dalam profesi ini, bahkan sebagian telah menginjak generasi kedua, yang menambah talentanya dengan cara bersekolah dan menjalin relasi pengetahuan dan pengalaman dengan para desainer luar daerah.

Malah, sebagian telah mampu melakukan eksebisi batik di luar negeri. Sebuah geliat yang menunjukkan olah kreativitas dan jati diri dari kabupaten yang merupakan gerbang depan Jawa Timur dari arah Jateng

Hadir dan turut meramaikan fashion pada sore hari diBenteng Pendem ini beberapa desainer luar kota seperti Liza Supriyadi (Semarang), Drs. Ami Hendra Wijaya (Yogyakarta) sekaligus pendamping-pendorong para desainer Ngawi, Dyan Nugra (Semarang), Hanif Aisyah (Solo), Rhiana Putri (Surabaya). Semua membawakan batik warna alam ngawi dengan menggandeng pengusaha lokal brand Ngawi, seperti Batik Sidomulyo, Batik Pringgodani, Batik Widi Nugraha, Batik Enjang Pelangi. Dimunculkan pula desainer muda penuh bakat, Tofa dan Bagus Sajiwo. WH

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here