Semula, Widi Widyawati seorang ibu rumahtangga biasa. Berhasrat turut menopang ekonomi rumahtangga, ia yang pintar menjahit, kemudian mendirikan Gerai Hafizha.

Widi Widyawati, kanan, bersama sang suami, Hesti Sumantri

Saat Widi, begitu ia akrab disapa, mendirikan Gerai Hafizha, ini merupakan perwujudan dari obsesinya untuk berbisnis busana. Hasrat pilihan bisnisnya tak jauh dari passion-nya selama ini, yang menyukai jahit-menjahit dalam kesehariannya.

Kebetulan, posisi dan lokasi rumah tinggal ibu berputra lima (tiga putra kembarnya wafat pada usia sangat dini) ini dekat dengan kawasan industri berikat, Citeureup, tempat sang suami bekerja di sebuah pabrik semen. Wilayah yang dibelah oleh tol Jagorawi ini semakin dinamis dalam arus pergerakan ekonomi.

Berbahu dengan sang suami, Hesti Sumantri, Widi mengendus potensi bisnis busana di kawasan suburban yang semakin berkembang ini.

“Saya sudah 15 tahun menjalani bisnis ini,” ujar perantau asal Prambanan, DIY, ini, seiring dengan ikut hijrah dirinya bersama sang suami.

Hari-hari terakhir ini Widi tengah disibukkan oleh restorasi gerainya di bilangan Jalan Gunung Putri Raya, yang berpindah beberapa meter dari ruko sebelumnya.

Tampilan gerainya lebih modis. Aneka busana muslim dan muslimah –juga aksesori seperti bros, tas– dari brand seperti Nibras, Zenitha, Haihai, Shasmira, dan sebagainya– tertata dalam rak-rak yang rapi.

Sebuah brand kenamaan tengah mengajak Widi bekerja sama. Mereka mendesain, mendisplai produknya, sekaligus menawarkan aneka promo khusus kepada pelanggan  Gerai milik Widi ini.

Bisa jadi gerai itu tidak begitu ramai oleh pengunjung. Namun bukan berarti pergerakan barangnya terhenti. Widi mengantisipasinya dengan warta barang baru maupun model keagenan virtual untuk menarik minat konsumennya.

Hadirnya telepon genggam berteknologi android, kekuatan penyimpanan pesan dan gambar yang besar, serta semakin tingginya kecerdasan intelijensi ponsel, telah memungkinkan revolusi penjualan.

Saat belanja ke toko bukan satu-satunya pilihan, posisi sebagai agen maupun dropshipper yang membina penjual-penjual online menjadi penting. Potensi reseller ini sangat strategis dan penting bagi postur bisnis Widi. Mereka tak terbatas dalam satu wilayah administratif, bahkan sebagian bermukim di kota lain, namun bisa disatukan dalam komando dan komunikasi yang intens.

JNE Baru Menyerap 10%

Menurut Widi, bulan-bulan berkah dalam penjualan adalah 2, 3 bulan jelang Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri. Pada saat itulah, banyak pelanggan datang ke tokonya. Selebihnya, 1,5 bulan bakda Lebaran, saat tahun ajaran baru, Idul Qurban, adalah masa turun omzet ketika masyarakat memindahkan prioritas kebutuhannya.

Namun demikian, bukan berarti tidak ada dinamika penjualan. Hadirnya tas, busana, mukena, yang model baru, dari agen virtualnya, cukup memancing dan menggoda pelanggan dari para reseller-nya. Bahkan items online-nya bisa lebih banyak daripada displai dagangan di tokonya.

Karena itulah, Widi senantiasa aktif membagi informasi berbagai busana, dari jilbab, busana bawahan, gamis, busana olahraga syar’i, maupun aksesori. Widi pun senantiasa digandeng oleh para pemilik brand busana untuk ditingkatkan pengetahuan dan wawasan berjualannya, demikian pula dalam menyapa para agen reseller-nya.

Siapa saja jasa pengiriman barang yang dikontak maupun mengontak pemilik Gerai Hafizha ini?

“Sewaktu di ruko yang lama, semua saya kirim lewat JNE. Kini hanya 10 persen dari porsi pengiriman. Mereka tak mau menjemput (pick up) bila hanya satu-dua barang,” ujar Widi.

Seberapa 10% itu? Widi memang tak mau menyebutkan secara spesifik. Namun taruhlah ia memiliki 300 reseller, lalu yang aktif 150 reseller, sementara yang aktif itu rata-rata memiliki 10 transaksi setiap bulan, berarti kiriman barang berjumlah 1500 paket.

Belum lagi bila resellernya kita tingkatkan menjadi 175, dengan rata-rata membukukan 15 transaksi per bulan. 1875 paket per bulan, bukan? Ini belum yang order nonretail di tokonya.

Widi masih sibuk dengan urusan displainya, memindahkan ke bagian itu atau membawa barang yang lain ke bagian lainnya. Gerak sibuknya tampak mewakili geliat ekonomi feminin yang memang semakin tampak kencang dan prospektif di kawasan pinggiran (suburban) bernama Citeureup, Kabupaten Bogor itu. Wakhid Nur E

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here