Kegagahan bukan monopoli kaum adam. Tetap ada interupsi historis ketika sang hawa ini tampil di depan memimpin barisan prajurit perang.

Dengan panduan trend forecasting dari Indonesian Fashion Chamber (IFC), para anggota IFC jelas mendapat panduan dalam hal tren pewarnaan maupun potret-potret historis yang akan bisa dijadikan dasar bagi kreasi busananya.

Dalam perhelatan Jogjakarta International Batik Biennale 2018 di Pagelaran Kraton, Jogja pada Sabtu malam, 6 Oktober 2018, Lanny Amborowati memanfaatkan peta jalan tersebut.

Ia menampilkan tema “The Warrior”, yang memotret perjuangan seorang perempuan perkasa asal Prancis ketika negerinya tengah diinvasi oleh bangsa Inggris. Joanne d’Arch bahkan dianggap sebagai orang suci dan dewi pelindung, tempat dirinya menjadi martir oleh peperangan tersebut.

Sebagaimana prajurit yang harus berkamuflase dan tidak ingin warna terang bisa menyebabkan gampang terbunuhnya dirinya, Lanny menampilkan warna-warna gelap, seperti: abu-abu, biru laut, hitam, putih, dan silver.

Warna-warna itu ia terapkan dalam linen tutor, batik cap tuntrum modifikasi dan katun. Tampilan European look ini mewujud pada 8 parade busana berbentuk long cardy, A line dress, long trouser, dan long cape.

Alhasil, busana muslim yang androginis tampak berkat pemakaiannya adalah kaum hawa, namun dengan warna maskulin, sebagaimana prajurit perang yang tengah menyiapkan dirinya maju ke medan laga.

Dalam besutan busana muslimah, kreasi Lanny menawarkan suatu kekaleman tampilan, namun menjadi menarik karena warna-warna maskulin dalam paduan utama batik tuntrum dengan pemanis kain lainnya. Lambang keberanian dan ketegasan. W/H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here