Jakartae-commerce atau dagang melalui internet merupakan fenomena baru yang secara agregat akan meningkatkan arus perputaran barang dan uang yang bernilai besar dalam skala nasional.

Dalam sebuah pertemuan di hotel kawasan Jakarta Selatan, desainer asal Batam, Lina Sukijo tengah mengumpulkan para reseller maupun agen daerah yang memasarkan busana kreasinya. Dalam majelis makan malam (gala dinner) tersebut, Lina sengaja menyapa secara langsung pada para hijabermoms yang menjadi ujung tombak bagi pemasaran busananya.

karya Lina Sukijo

Di sini, Lina meminta masukan kepada para reseller-nya, baik dalam soal gaya dan tren busana kreasinya, hingga proses pengiriman barangnya. “Saya baru bisa menjual 350 busana muslim per bulannya karena masih terbatasnya para penjahit busananya,” urai Lina, yang pelanggannya tersebar dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi itu.

Lain lagi cara yang dilakukan Lisa Supriyadi. Desainer lulusan LPTB Susan Budiardjo yang telah berkiprah selama 5 tahun ini mencurahkan kepiawaiannya dalam desain busana muslim dengan batik tulis, yang acapkali dipadukan dengan kain etnik. Tak heran bila karya limited dan berciri haute couture ini juga berharga premium atau middle up, yang khusus dirancang dengan ketelitian yang tinggi.

karya Liza Supriyadi

Namun demikian, desainer asal Semarang ini juga menyediakan kreasi berharga menengah, yakni aplikasi batik tulis yang dipdukan dengan kain kontemporer seperti ceruti, katun, maupun kaftan. Liza pun mampu menjual seratusan busana dalam waktu satu bulan.
Sementara desainer senior asal Solo, Tuty Adib, merancang busana muslim maupun nasional dengan sentuhan khasnya, batik dan aneka kain etnik nusantara, kendatipun, ia memanfaatkan kain-kain kontemporer pula.

karya Tuty Adib

Tuty yang owner busana muslim dengan brand Bilqis dan dikenal sebagai perancang busana keluarga Presiden Joko Widodo ini mengaku, ia bisa menjual lebih dari 50 buah busana yang berharga premium, sebagian karena memang pesanan dari para pelanggannya.

Online dan Jasa Pengiriman
Hidup di masa sekarang ini, ujar pakar manajemen Rhenald Kasali, berada dalam kondisi disruption, yakni suatu keadaan yang telah berubah secara tiba-tiba dan mengguncang kemapanan. Ketika film bioskop tergantikan piring cakram (compact disk), pabrik es tergeser kulkas rumah, surat dan kartu lebaran dengan e-mail maupun wa, pita kaset dengan winamp, majalah dan koran atau cetak dengan majalah online, dan masih banyak contoh lagi, saat itulah kebingungan melanda. Yang tidak mau atau mampu mengantisipasi perubahan, tentunya akan tertinggal, bagaikan fosil dinosaurus yang bergeletakan pada masa purba karena tiada kuat menghadapi perubahan cuaca.
Namun bagi kalangan yang positif, disruption juga merupakan tantangan menggairahkan untuk disikapi sekaligus diantisipasi. Hal ini disikapi oleh Ketua IWAPI DKI Jakarta, Tatyana Sutara, S.E, M.Si dengan memprogramkan goes digital kepada para anggotanya. Ia mendatangkan ahli IT untuk mengkursus para anggota IWAPI DKI Jakarta dalam dunia media social berbasis teknologi informasi.

Tatyana Sutara, SE, M.SI

“Digitalisasi adalah jawaban jitu bagi pola marketing yang efektif, efisien, murah, dan berdaya jangkau global. Saya ingin para anggota ini melek digital, baik dalam urusan administrasi maupun dalam pola bisnis para anggotanya. Demikian pula kursus pengisian pajak secara online,” kata Presiden PT Srikandi Sukses Lestari ini.
“Saya memanfaatkan WA, Instagram, Facebook untuk menyapa para pelanggan,” demikian Tuty Adib, Liza Supriyadi, Lina Sukijo maupun Tatyana secara berbarengan. Iklan media cetak sebagai upaya branding secara simultan memang tetap diperlukan, namun media kontemporer yang real time, visualizing dan filmis jelas sangat membantu untuk tersampaikannya pesan dan kecepatan bertransaksi.
Nur Mursidi, seorang pelaku usaha busana muslim dan muslimah memaparkan, bagaimana Thamrin City atau Thamcit yang kurang poluler bagi pembeli offline, telah disikapi oleh para pedagangnya dengan perdagangan online via medsos. Mereka memotret aneka jenis busana beserta harganya dalam format desain, lalu menggandakan gambar itu ke dalam media sosial yang dimilikinya.
Calon pelanggan yang tinggal hingga sejauh Papua pun tidak perlu berangkat ke Jakarta, dan hanya tinggal memencetkan ujung jarinya ke layar ponsel, meminta jenis busana dimaksud, dan para pedagang itu akan mengirimkan barang yang dimaksud. Dus, sepinya pasar bukan berarti matinya transaksi. Bahkan bisa berbanding terbalik. Demikian kesaksian owner Finoura itu.
Ujung dari transaksi busana di berbagai daerah adalah jasa pengiriman. Baik para pemain besar, menengah, maupun ibu-ibu rumahtangga yang jadi reseller adalah rantai ekonomi yang membentuk potensi ekonomi yang dahsyat. Hitungan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) pada tahun 2017 saja, kiriman barang itu sudah 250 juta paket dengan angka sekitar Rp50 triliun.
Para pengusaha maupun reseller yang bergerak di bisnis feminin ini –busana, makanan, kecantikan, perawatan kesehatan, kerajinan—tentunya bagian yang sah, yang darinya akan bergerak mewarnai dan menjayakan ekonomi Indonesia.
(Wakhid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here