Sebuah konferensi pers IFC chapter Jogja berubah menjadi ajang serupa kuliah interaktif yang menarik. Ini berkat hadirnya para desainer senior maupun desainer generasi milenial, serta hadirnya para wartawan pengamat mode yang memahami filosofi batik.

Trend Forecasting 2019/2020 memang dibincangkan di beberapa tempat oleh segenap anggota IFC di beberapa kota. Chapter Jogja sendiri menjadi menarik karena spesifikasinya, yang membincangkan tren busana dalam kerangka busana batik.

Desainer senior IFC chapter Jogja: Lia Mustafa, Isyanto, Philip Iswardono, Amin Hendra Wijaya, Dandy T. Hidayat

Filosofi pengenaan busana batik dahulu tak lepas dari rite of passage penting, seperti kelahiran, sunat, pernikahan, hingga kematian, dan setiap pembuatannya menunggu kecocokan hati.

Oleh para desainer Jogja, warisan batik dihadirkan tema besar trend forecasting 2019/2020, yang mengambil tema “Singularitas”, dengan menurunkan empat tren, yakni, pertama, Exuberant (riang-bergairah); Kedua, Neo-Medieval yang mengusung romantisme keprajuritan di Abad Pertengahan; Ketiga, Svarga, spiritualitas yang menyatukan dalam keharmonisan; dan keempat, Cortex, visualisasi intelijen buatan (artifisial intelligent) dalam era digital atau milenial.

Desainer senior Lia Mustafa memaparkan bahwa batik adalah media komunikasi, di mana, batik adalah kain yang berkisah, kisah sejarah, kisah kearifan, dan juga cerita tentang harapan. Dan tren busana adalah cara meremajakan kembali motif batik sebagai warisan lokal yang ditawarkan kepada dunia.

Ini pun disambung oleh Ketua IFC chapter DIY, Philip Iswardono, bahwa pembaruan itu akan menggiring pada proses penciptaan avant garde maupun membuka pasar, yang hasilnya merupakan olah cipta dan karsa desainer yang akan, atau kurang, dilirik atau diminati oleh pasar. Di situah industri kreatif bergulir, dan bergantung pada keliatan para desainer sendiri dalam membaca tren.

Seberapa kuat pesan dan pesona oleh kreasi batik itu? 21 desainer Jogja yang tergabung dalam IFC akan mementaskannya dengan panduan “trend forecasting 2019/20120”, pada tanggal 3-6 Oktober 2018 di Pagelaran Kraton maupun Kepatihan, simbol dukungan pemerintahan DIY kepada para kreator busana daerahnya. W/H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here